Sunday, June 9, 2013

Comfort Zone



Sungguh saya sedang tak ingin pulang,
Tak ingin hari berlangsung selain yang begini.
Tak ingin melanjutkan hidup.

Bagaimana tidak,

Seluruh panca indera dimanjakan batuan tinggi menjulang, hamparan hijau, percikan air, pelukan kabut, dan harum cemara.
Hati berulangkali jatuh cinta dengan senyuman makian keluhan celotehan tertekan orang-orang yang terpaksa menjalani yang mereka tanpa disadari tidak mereka nikmati, demi menikmati dunia.

Tuhan, saya sedang berada pada zona kenyamanan.
Berada pada kepuasan rata-rata.

Zona dimana saya merasa akrab, seolah saya memang terlahir melakukan ini.
Sekaligus dimana saya merasa asing, karena saya mencari-cari dimana diri saya yang dulu, berhasrat pada cita-cita dan petualangan.

Seret saya dari kenyamanan ini, Tuhan.

Walaupun nantinya saya akan compang-camping menjalani hari tanpa kepastian.

Namun saya tau, itu nantinya akan menjadi hari-hari dimana saya akan bisa bangga pada diri sendiri, bahwa saya sanggup menolak sebuah kepuasan rata-rata.

-uma-

Thursday, May 16, 2013

200 B.C.




 

Ini adalah masa dimana saya menghayati zaman sebelum teknologi ada.
Signal tidak menjangkau dirinya, dia berada berminggu-minggu di tengah lautan.
Signal telepon pun tidak dapat menghampiri saya, saya tersembunyi dibalik lembah pegunungan.
Menyampaikan surat tak tentu kapan sampainya.
Siapa juga yang akan menyampaikan.
Merpati pos pun tak ada.
Rasa dan cerita hanya tertuang pada puluhan rangkaian kata2 picisan.
Yang saya rangkai dalam angan, ataupun digoreskan pena.
Tanpa alamat tujuan.
Yang saya tau, saya sendiripun akan menertawakannya setelah ini semua berakhir.
Saya (terpaksa) tidak butuh sinyal.

Love is in the air.

Ada di udara, dan saya menghirupnya setiap hari :)

Saturday, April 20, 2013

My Sky is Cloudy, How's Yours There?



Tengadah ke Langit,
Ada gumpalan awan berarak meninggalkan saya.
Tersapu lembut oleh hembusan angin,
Pergi ke arah dirinya berada.
Entah akankah mereka sampai menaungi belahan bumi sana
Sampai belahan bumi dimana kekasih saya bernafas.
Dia Yang hadirnya masih dipermainkan puluhan deburan ombak.
Yang keberadaannya masih disembunyikan oleh pelukan langit.
Yang Berada ratusan kilometer tak terjangkau panca indera.
Inginnya parade gumpalan titik2 air itu sampai kesana.
Meneruskan rasa ini.
Sebab saya tak dapat menyampaikannya sendiri.
Menyampaikan kata rindu yang kepingannya sudah saya tabung selama beberapa purnama.
Merangkai kasih, memetakan cinta.
Rasa dari relung hati yang teruji dengan kuat.
Melampaui batas jarak dan perbedaan waktu.
Karena kita tahu.
Sebaiknya cinta memang bukan hanya sekedar ada,
Harusnya dia akan tumbuh setiap hari.
Lalu saya,
dan kamu,
Akan berpegang erat padanya,
Sehingga dia, Sehingga cinta
tidak akan pernah pergi

-uma-